Kantor Kejaksaan Jombang
Bangunan
Kantor Kejaksaan Jombang memiliki arsitektur seperti kantor-kantor pemerintah
pada umumnya. Telah terjadi penambahan dan pemugaran bangunan yang dilakukan
berkali-kali oleh kejaksaan Jombang. Penambahan berupa bangunan lain yang ada
di halaman samping, penambahan lantai bangunan, dan pemugaran bangunan lama
dengan memberikan komponen-komponen baru seperti penggantian lantai dan
pengecatan. Perubahan juga dilakukan berbentuk pergantian denah dan penutupan
dinding dengan wallpaper bergaya modern.
Penambahan
bangunan yang ada membuat penampakan bangunan asli yang merupakan tinggalan
kolonial pun tenggelam.

Dari
foto yang ditampakkan lewat foto lama, ornamen dan dekorasi bangunan tidak
terlalu berubah signifikan. Karakteristik bangunan Belanda pun seperti agak
susut karena mengingatkan gaya bangunan Indonesia khas masa pascakemerdekaan.

Kesejarahan
Kantor Kejaksaan Jombang
Tampak
depan, kantor Kejaksaan Jombang terlihat seperti bangunan perkantoran di
Indonesia pada umumnya. Terdapat pilar-pilar yang bagian bawahnya berhias
lempengan batu alam. Dindingnya bercat putih dan kecoklatan, seperti senada
dengan seragam pegawai yang bekerja di dalamnya.

Bangunan
kantor kejaksaan Jombang memang sudah direnovasi berkali-kali.
Bangunan-bangunan yang ada di dalam kompleks kantor kejaksaan bahkan makin
bertambah dari tahun ke tahun, melalui berbagai pemugaran dan pembangunan.
Semua itu disebabkan kebutuhan operasional kantor yang memiliki beban kerja
yang makin kompleks.
Tak
disangka, meski dari luar seperti berupa bangunan baru, ternyata di bagian
dalamnya masih menyisakan jejak sejarah dan sisa sisi bangunan lama dari masa
kolonial. Memang, bangunan kantor kejaksaan ini dulunya merupakan salah satu
markas BKR di Jombang.
Unsur
Kesejarahan di Kantor Kejaksaan Jombang
1.
Markas BKR
Selama ini,
bangunan kantor kejaksaan Jombang pernah menjadi lokasi markas BKR atau Barisan
Keamanan Rakyat tahun 1945. Pada masa perjuangan kemerdekaan, BKR ibarat ABRI
atau TNI milik Indonesia yang berfungsi sebagai tentara penjaga keamanan dan
kemerdekaan republik.

Peristiwa
Jombang Bumi Hangus tahun 1948 (Sumber : Leiden Digilib)
Eksistensi kantor
kejaksaan sebagai Markas BKR bahkan sempat terlihat dari foto udara saat
peristiwa Jombang Bumi Hangus tahun 1948. Peristiwa Jombang Bumi Hangus mirip
dengan Bandung Lautan Api. Pada masa itu, banyak lokasi vital yang
dibumihanguskan oleh para pejuang untuk melumpuhkan pengaruh tentara Belanda
yang mencoba kembali menduduki Indonesia.

Posisi
Kantor Kejaksaan dalam Peristiwa Jombang Bumi Hangus tahun 1948 (Sumber :
Leiden Digilib)
Hanya saja
peristiwa bersejarah Jombang Bumi Hangus mungkin tidak banyak dikenal, karena
Jombang bukan kota besar seperti Bandung. Tak banyak pula dokumentasi mengenai
peristiwa ini. Namun beruntung, tersisa beberapa foto yang menggambarkan
eksistensi bangunan kantor kejaksaan saat peristiwa terjadi.
Dulunya, di kantor
kejaksaan ini sempat ada tulisan atau penanda yang menyatakan bahwa lokasi
tersebut pernah menjadi kantor BKR. Agaknya, tulisan itu sudah hancur dan lapuk
dimakan usia. Meski demikian, cerita kesejarahan dan patriotisme bahwa kantor
kejaksaan Jombang dulunya pernah jadi markas BKR masih diceritakan dari masa ke
masa.
2.
Kantor Kejaksaan
era Kolonial
Kantor Kejaksaan
Jombang rupanya dulu juga menjadi lokasi kantor kejaksaan pada masa kolonial
Belanda. Pada masa kolonial, seringnya kantor kejaksaan ditempatkan berdekatan
dengan penjara. Faktanya hingga kini pun, kantor kejaksaan masih berdiri dan
berseberangan lokasi dengan Lapas Jombang. Jika kantor kejaksaan berada di
jalan Wahid Hasyim sisi barat, maka Lapas Jombang ada di sisi timur.
Belum ditemukan
data valid mengenai kapan tepatnya kantor kejaksaan ini dibangun, namun data kolonial
menyatakan bahwa penjara Jombang dibangun 1881. Sangat mungkin kantor kejaksaan
pun dibangun di tahun yang tak berjauhan dengan berdirinya penjara. Bisa
sesudahnya, atau malah sebelumnya. Estimasinya mungkin dibangun 1880 hingga
1890. Semua disebabkan karena kantor kejaksaan juga bagian dari perangkat
pemerintahan yang memegang peranan penting sebagai penegak peradilan.

Ditemukan catatan
dalam pembangunan infrastruktur tahun 1881 yang berasal dari Majalah
Perdagangan Surabaya. Berikut terjemahannya :
Majalah Perdagangan
Surabaya
08-01-1881
Kamis 1
September pagi. Di kantor pengelolaan air di Kalimaas di sini ditenderkan
secara umum sebidang tanah untuk konstruksi pekerjaan berikut di divisi
DJOMBANG sebagai berikut :
a)
Rumah Residen Pembantu dengan
bangunan tambahan besar
b)
Kantor Asisten Kediaman dengan
Landraadzaal dan kantor panitera, dianggarkan
c)
Penjara untuk 130 kepala
Proyek dianggarkan
secara ocala-sama dan, jika terjadi kegagalan, segera setelahnya juga dalam
satu plot.
Penyerahan
bahan-bahan yang diperlukan untuk pekerjaan-pekerjaan yang tidak ada dalam stok
negara, sesuai dengan dokumen-dokumen yang tersedia untuk pemeriksaan di kantor
tersebut dan di kantor Insinyur yang bertanggung jawab atas dinas ocal di
MODJOKERTO dari pihak-pihak yang berkepentingan. Kepala Insinyur dari 2814 Pekerjaan
Umum Sipil, A.M.S. HOGERWAARD.
Dari berita Soerabaijasch
Handelsblad bertanggal 1 Agustus 1881, terdapat informasi mengenai
pembangunan penjara berkapasitas 130 orang yang diserahkan pada kontraktor A.M.S.
Hogerwaard. Catatan dalam koran ini jelas menunjukkan tahun pembangunan penjara
sekitar 1881, sehingga bisa diperkirakan pembangunan kantor jaksa tidak jauh
dari perkiraan tahun tersebut.
3.
Kantor Raden
Adipati Soeraadiningrat
Kanjeng Sepuh
sebagai Bupati Jombang, sebelumnya dikenal sebagai Bupati Sidayu, Gresik.
Namun, tak banyak pula yang tahu bahwa kanjeng sepuh sebelumnya meniti karir
sebagai pegawai sipil berpangkat ajun jaksa.
Bahkan sebelum
menjadi jaksa, Kanjeng Sepuh memulai karirnya sebagai penulis non-komersial di
kawedanan Distrik Modjoredjo, Divisi Djombang. Beliau bekerja dari tanggal 5
Maret 1883 sampai 8 Maret 1890. Kala itu, Jombang masih berada di bawah naungan
residen Surabaya, dan masih Bernama Distrik Modjoredjo.
Data mengenai masa
muda Kanjeng Sepuh didapat dari koresponden koran di Jombang yang membahas
mengenai ulang tahun ke-35 Sang Adipati.

Berikut
terjemahannya :
Jombang.
Laporan
koresponden kami:
Selasa
adalah pesta di Jombang. Bupati kami yang terhormat merayakan hari jadinya yang
ke-35. Raden Adipati Ario Soeroadiningrat, putra mendiang Pangeran
Soeroadiningrat, Bupati Sidajoe, memulai karirnya sebagai penulis tak berbayar
di wedono distrik Modjoredjo, divisi Djombang, di mana ia menetap dari 5 Maret
1883 hingga 8 Maret 1890.
Dengan
keputusan Residen Surabaya ddo. 8 Maret 1890 diangkat menjadi juru tulis di
jaksa di Sidajoe, setelah itu diangkat menjadi asisten jaksa pada 8 Juli 1891.
Keputusan Residen
Surabaya menetapkan beliau dari tahun 1890 sebagai penulis jaksa di Sidayu,
Gresik, dan Juli 1891 sebagai wakil Jaksa. Pengangkatan Kanjeng Sepuh di Sidayu
pastinya bukan tanpa alasan. Selain telah lama bekerja yang awalnya sebagai
penulis tak berbayar lulusan ambtnaar, pastinya karirnya juga berkembang dari
yang diawali dari rintisan magang di kantor kejaksaan divisi Jombang.
Jadi, jika kantor
kejaksaan Jombang sudah ada sejak masa kolonial Belanda, maka Kanjeng Sepuh
muda berarti pernah berkantor di sana. Jelaslah selain sebagai bangunan
tinggalan kolonial, bangunan kantor kejaksaan Jombang juga merupakan bagian
dari sejarah penting Jombang karena menjadi tempat Kanjeng Sepuh Sang Bupati
Pertama Jombang memulai karirnya.
4.
Bertempat di
Kompleks Kota Lama Jombang
Sudah bukan
rahasia, dulunya setiap kantor dibangun berdekatan. Area T di Jombang yang kini
menjadi Jalan Wahid Hasyim, Jalan Achmad Yani dan Jalan Merdeka (Jl. Gus Dur)
adalah pusat utama Kabupaten Jombang bahkan sejak masa kolonial.

Dekat dengan
alun-alun, Masjid Agung, dan Kantor Asisten Residen, menjadikan kawasan yang
kini berada di sekitar Kantor Kejaksaan Jombang semacam pusat pemerintahan di
masa kolonial. Pendopo Jombang yang sekarang, dulunya adalah pengadilan.
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, kantor kejaksaan pun ditempatkan
dekat dengan penjara, dan lokasi tersebut masih bertahan hingga kini.

Tetangga Kantor
Kejaksaan yang kini menjadi SMKN 1 Jombang dan SMAN 1 Jombang, merupakan
kawasan bekas rumah asisten residen Jombang. Bangunan rumah dinas Asisten
Residen Jombang kini pun sudah lenyap tak bersisa. Sebuah jejak sejarah yang
hilang tanpa bekas, yang sangat sulit diceritakan pada generasi penerus.
Kawasan yang jadi
lokasi Kantor Kejaksaan Jombang semacam kota lama Jombang yang bangunan
kolonialnya makin menipis dari masa ke masa. Padahal sejarahnya sangat penting
bagi Jombang. Tentunya, untuk menjaga sejarah tidak hanya dikenal lewat gambar,
pastinya harus mempertahankan fisik bangunan aslinya.
Jejak
Sejarah di Kantor Kejaksaan Jombang :
1.
Arsitektur
Bangunan Kantor
Kejaksaan Jombang memang sudah banyak dilakukan renovasi dan perubahan, baik
dari segi denah maupun penambahan bangunan baru. Meski tenggelam di balik
bangunan baru, sisi bangunan utamanya yang dulunya merupakan bagian dari kantor
kejaksaan era kolonial masih ada hingga kini.

Teras
koridor yang mendampingi taman

Taman di tengah bangunan, khas karakteristik
bangunan kolonial
Sisi bangunan yang
masih ada yaitu di bagian taman tengah yang masih menyisakan jejak arsitektur
kuno yang bisa dicermati. Bagian genting yang tinggi, posisi taman di tengah
bangunan, koridor teras yang ada di taman dengan pilar-pilar yang mencerminkan
arsitektur minimal dari masa kemerdekaan bahkan mungkin juga kolonial.

Teras
dengan atap miring yang tinggi
Gawang-gawang pintu
beberapa ada yang sudah diganti berikut daunnya, berganti dengan pintu-pintu
modern. Namun beberapa pintu beserta daunnya bahkan masih banyak yang
dipertahankan dan beberapa bahkan berfungsi dengan baik. Sebuah ciri awetnya
benda produksi masa kolonial yang mengutamakan fungsi, kualitas dan ketahanan,
berbeda dengan barang-barang dari masa modern yang hanya mempertimbangkan
kenyamanan dan gaya.

Pintu
lawas yang masih berfungsi dengan baik
Ketinggian area
juga rendah, meski permukaannya kini sudah berganti dengan ubin modern
sederhana berukuran 30x30. Beberapa ruangan memang sudah ditinggikan, dan
jendela-jendela sudah ditutup berganti dengan penyejuk udara. Namun bisa
dibayangkan bila bangunan asli masih berada pada ketinggian aslinya, bagian
langit-langit jelas menjulang seperti karakteristik bangunan Belanda pada
masanya.
2.
Pintu
Ada salah satu
pintu besi yang digunakan untuk ruang arsip yang memiliki kucian pegangan
berbentuk melingkar. Untuk membukanya perlu tenaga ekstra dan harus diputar
pegangannya layaknya nakhoda kapal. Pintu besi yang demikian mirip dengan cara
kerja brankas zaman dulu. Jelas dari bahannya, pintu itu dimaksudkan untuk menyimpan
benda berharga.

Pintu
besi Ruang Arsip
Sangat unik
bagaimana pintu besi tersebut masih menyisakan jejak kolonial yang jelas di
permukaannya. Terdapat emblem yang bertuliskan kluisedoor, Prima Quailteit. Kluisedoor
sendiri memiliki arti yang sama dengan vault door dalam Bahasa Inggris. Jika diterjemahkan berarti pintu lemari besi,
yang sering di Indonesia disebut pintu brankas.

Emblem
pintu brankas
Penyebutkan pintu
brankas untuk menyebut pintu besi didasarkan kebiasaan masyarakat di masa lalu
yang menyimpan barang berharga di brankas yang karakteristik pintunya memiliki
pegangan memutar. Kemudian, apapun yang disimpan dalam lemari besi, entah kas
atau bukan, tetap disebut lemari brankas.
Penulisan
Kluisedoor, jelas mengindikasikan bahwa daun pintu berbahan logam tersebut
merupakan produksi Belanda atau dibuat di masa kolonial Belanda. Dan uniknya
ada berita menarik yang diliput di dalam Soerabaijaisch Handelsblad bertanggal
1 Agustus 1881.

Dalam berita, Pintu
Brankas sendiri memiliki secuil sejarah unik yang sempat diabadikan dalam
berita singkat koran Soerabaijaisch Handelsblad yang tertanggal 24
April 1930 Berita tersebut berbunyi :
JOMBANG.
Percobaan
perampokan. Pada salah satu malam terakhir, upaya dilakukan untuk memaksa
brankas masuk ke kantor jaksa di sini. Pencuri memasuki kantor melalui jendela
dan masuk melalui gembok brankas. Namun, dia tidak berhasil membuka kunci bibir
brankas.
Setelah
menyiram beberapa kertas dengan tinta, pencuri itu pergi. Kemungkinan mereka
berurusan dengan penjahat yang baru saja dibebaskan dari penjara.
Jelaslah
dalam berita terdapat berita adanya percobaan pembobolan lemari brankas di
kantor kejaksaan. Pencuri tersebut jelas ingin mengambil apa yang ada di dalam
brankas yang menyimpan benda berharga. Tentunya, karena bukan bank, jelas yang
disimpan bukanlah emas atau uang tunai. Bisa jadi barang bukti atau sesuatu
yang menjadi incaran pencuri mengingat ada disebutkan ada dugaan kaitan dengan
penjahat yang baru dibebaskan dari penjara.
Nilai
Penting Kantor Kejaksaan Jombang Bagi Sejarah Jombang
Sebagai
kantor kejaksaan yang sudah berdiri di masa kolonial, tentunya bangunan
bersejarah ini telah menjadi saksi berbagai peristiwa yang terjadi di Jombang.
Terlebih lagi, ternyata kantor ini masih menyimpan jejak sejarah di masa lalu
berupa kompinen arsitektur yang masih tampak dan beberapa juga berfungsi dengan
baik.
Jejak
sejarahnya sebagai saksi kemerdekaan Jombang, arsitekturnya yang kolonial,
maupun menjadi kantor pertama Kanjeng Sepuh muda pertama kali magang merupakan
nilai yang sangat berharga bagi Jombang. Tidak semua bangunan memiliki nilai
sejarah sepenting itu, dan begitu istimewanya kantor kejaksaan memilikinya.
Kebutuhan
akan ruangan baru dan lahan parkir untuk operasional memang menjadi tantangan
berbagai instansi di masa kini. Adanya rencana renovasi dan perombakan
besar-besaran harusnya tetap memperhatikan nilai tak berwujud berupa sejarah
yang tak berwujud di kantor kejaksaan Jombang.
Meski sudah
dilakukan banyak perombakan, baiknya kantor kejaksaan Jombang tetap
mempertahankan bentuk asli bangunan kuno yang ada di wilayahnya. Jika pun
kebutuhan akan lahan parkir maupun ruangan baru untuk operasional, hendaknya
dilakukan di sisi bangunan baru yang tidak mengubah bangunan lama. Selain itu,
harusnya dibuat desain yang tidak merobohkan sisi bangunan kolonialnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar